Tips berikut diperoleh dari salah satu majalah langganan saya. Menurut saya ini penting untuk dibagikan, karena saya pribadi beberapa kali menemukan masalah ini ketika melakukan uninstall/install sistem operasi. Saat melakukan uninstall/instalasi sistem operasi pada PC terutama yang memiliki dual boot, seringkali saya lupa bahwa ada yang namanya MBR (Master Boot Record) yang mengatur sistem operasi mana yang akan digunakan untuk boot.
Grub adalah software bawaan linux (selain LILO) yang digunakan untuk mengelola pilihan-pilihan sistem operasi dalam melakukan booting. Tidak jarang proses booting mengalami kegagalan karena Grub tidak dapat berjalan secara semestinya. Saat Anda mengalami hal ini, berikut adalah langkah-langkah yang dapat Anda lakukan :

  1. Siapkan live CD distro untuk dapat masuk ke terminal (distro bebas, asal memiliki Grub)
  2. Masuk ke terminal, kemudian ketik : grub <ENTER>, Anda akan segera memasuki konsole Grub.
  3. Grub membutuhkan file stage1 untuk men-setup dirinya. Pastikan Anda mengetahui letak file ini. Jika Anda bingung, cobalah perintah ini : find /boot/grub/stage1 (mencari file stage1). Lokasi file stage1 dinyatakan berupa (hd?,?). Sebaiknya, jika PC saat ini dalam keadaan baik-baik saja, segera check keberadaan file stage1 untuk kemudahan disaat diperlukan.
  4. Lanjutkan dengan menginstal ulang Grub ke mbr dengan perintah : setup (hd?,?).
  5. Keluar dari Grub dengan perintah : quit

Selanjutnya, tinggal me-restart PC.

Powered by ScribeFire.

Sebelum mulai ke sisi teknis, saya akan menjelaskan sedikit mengapa saya mencoba teknik bernama “bonding” ini. Laboratorium tempat saya mengutak-atik komputer memiliki sebuah file server yang biasa digunakan untuk kegiatan praktikum. Saat kegiatan praktikum berlangsung,koneksi ke server ini sangat padat sehingga terkadang user membutuhkan waktu yang lama saat menyimpan file.

Kasus ini tidak lantas membuat saya berkesimpulan bahwa saya solusinya adalah bonding. Ada beberapa hal lain yang mungkin menyebabkan hal ini, diantaranya adalah : memory kurang, processor yang tidak memadai dan hub (ya, hub ! karena switch di lab ini sedang rusak terpaksa saya menggantinya dengan hub).

Lalu mengapa saya memilih bonding ? Tidak ada alasan lain selain karena Laboratorium ini memiliki sisa NIC yang cukup banyak. Ok, lalu apa sebenarnya kegunaan bonding ? Banyak ! Tapi saya hanya mengambil salah satunya, yaitu membagi beban koneksi ke beberapa NIC dalam satu komputer.

Server ini kini memiliki 2 NIC. Linux mengenalinya sebagai eth0 dan eth1. Eth0 adalah NIC yang sejak awal telah ada di server dan eth1 adalah NIC yang baru di pasang. Terhadap NIC yang baru terpasang (eth1) saya tidak melakukan konfigurasi apapun.

Langkah pertama yang saya lakukan adalah menginstall perangkat lunak ifenslave. Dengan Ubuntu saya cukup menjalankan perintah :

sudo apt-get update && apt-get install ifenslave

Selanjutnya saya menambahkan baris-baris berikut ke dalam file /etc/modprobe.d/aliases

alias bond0 bonding
options bonding mode=0 miimon=100 downdelay=200 updelay=200

Langkah selanjutnya adalah mengedit file /etc/network/interfaces dengan menambahkan baris-baris berikut :

iface bond0 inet static
address 10.100.60.31
netmask 255.255.255.0
network 10.100.60.0
gateway 10.100.60.1
dns-nameservers 10.100.100.1
hwaddress ether 00:05:5D:7C:FD:96
post-up ifenslave bond0 eth0 eth1

auto bond0

Perhatikan, hwaddress ether ……. saya dengan alamat hardware dari NIC (eth0 dengan MAC 00:05:5D:7C:FD:96).

Kemudian saya memeriksa apakah dalam file ini terdapat baris-baris pernyataan yang melibatkan eth1 (selain dari baris pernyataan yang saya masukkan sebelumnya), ternyata ada ! Dan pernyataan ini saya commented out dengan memberikan tanra ‘#’ di depannya.

Setelah semua kegiatan ini, saya akhiri dengan merestart server ’shutdown -r now’

Whoalla….sukses deh bonding kali ini !

Bulan ini saya baru saja berlangganan Telkom Speedy, memilih paket time based dengan quota 50 jam per bulan. Saat mendaftar saya memperoleh sebuah modem ADSL merk TP-Link seri TD-8811. Modem ini memiliki satu port WAN, satu port USB, dan satu port LAN (RJ-45).
Secara default, modem di set pada mode bridge, artinya untuk melakukan koneksi saya memerlukan aplikasi dial-up PPPoE pada sisi client. Tentu saja hal ini dapat diubah jika saya mengetahui Connection Type, VCI dan VPI dari TelkomSpeedy, sayangnya saat ini saya tidak memilikinya.
Koneksi speedy menggunakan Windows sangatlah mudah, karena secara default Windows memiliki software dial-up untuk PPPoE, bagaimana dengan Ubuntu ?
Awalnya saya mengalami kesulitan, karena saya menggunakan Ubuntu 6.06 versi desktop yang secara default menggunakan Gnome sebagai desktop manager. Kebingungan terjadi ketika mencari-cari aplikasi untuk dial-up di Gnome dan saya tidak menemukannya, terpaksa Windows beraksi. Hasil browsing menunjukkan bahwa koneksi PPPoE dapat dilakukan melalui terminal, inilah langkah-langkah yang saya lakukan :

  1. Hubungkan modem ADSL ke komputer dengan menggunakan koneksi LAN (RJ-45), pastikan modem ADSL dalam keadaan menyala (tidak perlu terkoneksi ke internet)
  2. Buka terminal, ketikkan :

    sudo pppoeconf

  3. Masukkan password
  4. Aplikasi akan memeriksa perangkat-perangkat yang ada pada PC yang dapat digunakan untuk melakukan koneksi (misalnya : internet card, wireless card, dsb)
  5. Aplikasi akan memeriksa perangkat mana yang memiliki koneksi ke modem ADSL
  6. Selanjutnya pilih “yes” untuk setiap option yang ditawarkan, jangan lupa memasukkan username dan password untuk koneksi speedy saat diminta.

Sampai tahap ini, Ubuntu telah selesai melakukan konfigurasi speedy. Untuk melihat hasil konfigurasi, gunakan perintah :

sudo nano /etc/ppp/peers/dsl-default

Untuk mulai melakukan koneksi, ketik :

sudo pon dsl-default

, untuk lebih memudahkan, kita dapat mengganti nama file dsl-default misalnya menjadi speedy, sehingga untuk melakukan koneksi ketik

sudo pon speedy

Memutuskan koneksi dapat dilakukan dengan perintah “sudo poff”.

Ya, sekian pengalaman saya melakukan koneksi menggunakan Ubuntu Linux dan Telkom Speedy.

Powered by ScribeFire.

« Previous Page